breaking news New

Review Buku Magnet Rezeki Karya Nasrullah

Buku Magnet Rezeki Buku Magnet Rezeki

Nasrullah bercerita di buku Rahasia Magnet Rezeki yang kala itu ia ikut sang istri yang berhasil mendapat beasiswa untuk meneruskan studi ke jenjang S2 di Johor Baru, Malaysia. Di dalam buku ini juga diceritakannya bahwa ia sebelumnya memperoleh informasi yang menyatakan mencari pekerjaan dan membuat visa di Malaysia itu mudah. Nyatanya tak demikian. Ia tak mendapatkan kedua-duanya. Visa tidak punya, pekerjaan pun demikian. Ia pun harus menganggur di negeri tetangga tersebut.

Dalam kesehariannya, ia hanya mengantar jemput istri, berdiam di apartemen dan mengunci pintu dan jendela. Sebab, apabila ia nekat bekerja dan diketahui pihak berwenang Malaysia, ia pasti segera ditangkap. Nasrullah hanya leluasa keluar dari apartemennya saat pergi ke masjid untuk salat berjamaah.

Pada saat itu istrinya sedang hamil anak pertama. Maka, hanya Nasrullah sendiri lah yang bisa mencarikan makanan demi keperluan ngidam. Salah satunya adalah sayur-sayuran.

Lain halnya seperti di Indonesia, di Malaysia tidak ada tukang sayur yang bisa dijumpai di dekat tempat kediamannya. Untuk dapat membeli sayur-sayuran tersebut mau tidak mau ia harus berjalan kaki untuk menemukan toko sayur yang jaraknya cukup jauh, sedang hal ini berlangsung setiap hari.

Suatu hari sambil berjalan untuk membeli sayur ia pun membatin: “Enak banget ya kalau punya kulkas. Saya bisa membeli sayuran untuk beberapa hari sekaligus, dan disimpan di kulkas.” Lantas setiap kali istrinya minta dibelikan sayuran, pikirannya tiba-tiba berkata, “Kulkas ya Allah.” Hatinya juga turut merintih, “Kulkaaaas ya Allah”.

Pernah juga pada suatu waktu, selepas salat Zuhur maupun salat-salat lainnya, “Kulkaaaas ya Allah.” Lantas saat dirinya baru saja keluar dari masjid, keajaiban pun terjadi. Secara yakin ia menemukan kulkas yang baru dibuang oleh sebuah keluarga di depan seberang tempat tinggalnya. Ini dikarenakan kebiasaan orang Malaysia yang sering mengeluarkan barang-barang miliknya yang tak lagi digunakan serta menggeletakkan begitu saja di depan rumah. Barang-barang tersebut umumnya diambil oleh para imigran asing dari beberapa negara, salah satunya Nasrullah.

Nasrullah lalu mendekati kulkas itu. Ia mulai membuka pintunya dan ternyata masih ada bunga esnya. Menandakan bahwa kulkas tersebut belum lama dibuang. Karena ukuran kulkas yang cukup besar, ia pun menghubungi seorang kawannya untuk meminta bantuan memindahkan kulkas itu ke apartemennya. Ia kemudian coba nyalakannya.

“Alhamdulillah, menyala… Subhanallah,” serunya sebagai bentuk pujian kepada Allah.

Cerita keajaiban lain terjadi sekitar tahun 2006. Kejadian itu dipicu oleh aplikasi Google Earth yang ada di laptop Nasrullah. Melalui aplikasi tersebut, ia memerhatikan pemandangan di sekitaran Depok, Jawa Barat, yang masih rindang ditumbuhi pepohonan.

Perhatiannya kemudian tertuju pada lahan yang kosong yang tak jauh dari letak rumah kontrakannya di kawasan yang sama. Ia berseru kepada dirinya sendiri: “Enaknya kalau lahan itu jadi perumahan”.

Beberapa hari setelahnya, seseorang datang kepadanya dan menawarinya untuk membeli sebidang tanah, yang ternyata tak lain adalah lahan kosong yang ia lihat di Google Earth. Singkat cerita, ia kemudian menemui si empunya tanah yakni orang tua yang sering dipanggil Pak Haji. Rupanya, Pak Haji ini memiliki banyak tanah. Sehingga ia tak tahu persis tanah yang dimaksud oleh Nasrullah. Akhirnya, tanpa ragu Pak Haji malah menyerahkan begitu saja seluruh sertifikat asli tanah pada Nasrullah.

Kala itu Nasrullah memang tidak memiliki banyak uang. Awalnya, ia hanya bermodal keberanian, beberapa kenalan dan saudara yang siap jadi investor pada lahan tersebut. Di luar yang dibayangkan, ia malah diberi kepercayaan penuh dalam memegang 18 sertifikat dari orang yang baru dikenalnya. Akibat kejadian ini, barulah penulis benar-benar menyadari bahwa Allah telah menjawab doanya, yang berkeinginan untuk bisa memiliki lahan idamannya yang ia lihat di Google Earth. Lahan itu di kemudian hari ia sulap menjadi perumahan The Orchid Residence yang beralamatkan di Beji Timur, Depok.

Dari dua peristiwa ajaib di atas, kita dapat menarik poin penting yang dijabarkan oleh penulis buku ini, yakni Allah selalu mendengar doa-doa hambanya.

Rezeki Layaknya Ditarik Oleh Sebuah Magnet

Melalui buku ini, penulis seolah-olah mengibaratkan rezeki sebagai benda yang tergelantung di awan. Kita, manusia, tinggal mencari cara agar bisa menariknya. Dengan kata lain, persis seperti masaknya buah yang ada di pohon, kita hanya memerlukan suatu perangkat sederhana untuk menjangkau buah tersebut. Dan, melalui dua cerita yang sudah kami rangkum di atas, rezeki datang setelah penulis melakukan proses visualisasi di dalam benaknya terhadap apa yang dikehendaki.

Ketika Nasrullah dan istri begitu membutuhkan kulkas, yang dilakukannya ialah berdoa bersungguh-sungguh kepada Allah. Dengan segera Allah memberinya kulkas. Begitu juga saat ia berkeinginan mempunyai lahan untuk memulai bisnis properti. Allah juga memudahkan urusannya tersebut.

Mungkin banyak dari pembaca yang sudah tidak asing dengan istilah The Law of Attraction kita sebut sebagai hukum daya tarik-menarik. Hukum ini menyatakan: “Sesuatu akan menarik ke dalam dirinya yaitu segala hal yang satu sifat dengannya.”

Hal ini cukup memberi penjelasan mengapa orang-orang yang memiliki satu hobi yang sama senang berkumpul bersama. Ibarat menyetel radio, jika seseorang memutar tombol ke sebuah stasiun radio, maka stasiun radio yang dituju yang akan didapat.

Dan semua hal tersebut di atas, sejalan dengan ucapan Elizabeth Towne (1906):

Manusia adalah magnet, dan setiap detail peristiwa yang dialaminya datang atas daya-tarik (undangan)-nya sendiri.

Konsep magnet rezeki yang ada di buku ini bisa dikatakan telah mengadopsi hukum daya tarik-menarik. Meskipun, pada prinsipnya penulis juga menjadikan Kitab Suci Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai landasan yang paling fundamental. Pertanyaannya adalah, bagaimana cara mempraktikkan konsep ini? Bagaimana agar kita bisa menjadi magnet bagi rezeki yang tergelantung di awan-awan itu?

Langkah awal yang perlu diyakini terlebih dahulu ialah bahwa Allah menciptakan manusia, tidak lain dan tidak bukan untuk dimuliakan dan dimanja. Itulah sebabnya begitu diciptakan, Allah langsung menempatkan Nabi Adam di surga. Baru ketika Nabi Adam melakukan kesalahan, ia kemudian diturunkan ke bumi. Logikanya, karena berbuat dosa, hidup manusia jadi sulit. Sebab, hanya di bumilah segala hal yang diinginkan manusia harus dilalui susah payah terlebih dulu.

Senjata Bernama Pikiran Positif

Sampai tahap ini kita menjadi paham bahwasanya magnet rezeki merupakan hukum daya tarik-menarik. Semua hal yang kita idam-idamkan, harapkan, doakan dengan bersungguh-sungguh pasti akan dipenuhi oleh Allah. Selain itu, kita juga diyakinkan bahwa Allah menahan atas pengabulan doa-doa dari hambanya apabila ia tidak lekas bertaubat dari kubangan dosa. Maka, magnet rezeki hanya akan bekerja, jika manusia terus berusaha menjauhi perbuatan dosa.

Akan tetapi, itu saja belum cukup. Magnet tak mampu bekerja secara maksimal apabila pikiran manusia diselubungi oleh hal-hal negatif. Seperti halnya dua kutub yang saling bertentangan, pikiran negatif akan membuat magnet mengarah kepada arah yang berlawanan. Seseorang bisa saja berdoa, rutin salat malam, bermunajat sambil menangis di hadapan Allah agar dibukakan pintu rezeki seluas mungkin, namun, jauh di lubuk hatinya ia meragukan kemampuan Allah untuk mengabulkan permohonannya, sedangkan Allah Maha Mengetahui seluruh isi hati hamba-hamba-Nya. Maka, benarlah adanya pernyataan yang berbunyi “setiap pikiran adalah doa”. Jika kita masih memiliki pikiran yang serba negatif alias su’udzon, maka pikiran itu akan berbuah kesialan yang menimpa hidup kita. Artinya, nasib kita lahir dari proyeksi pikiran yang kita buat sendiri.

Lalu, ada juga spiritual meter dengan pembahasan atas berbagai motivasi negatif yang akan menjauhkan magnet rezeki yaitu; penonjolan diri, kemarahan, keserakahan, rasa takut, keresahan, apatis, merasa malu dan bersalah, serta dispersonalisasi. Untuk mengatasi semua itu, pembaca diberi kewajiban agar selalu mengembangkan motivasi positif yakni; eksplorasi, kooperasi/sosialisasi, kekuatan dari dalam, penguasaan, generativitas, pengabdian dan cinta, jiwa dunia, serta pencerahan.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Magnet Rezeki

Kelebihan

Rahasia Magnet Rezeki merupakan buku kedua yang Nasrullah tulis sendiri. Uniknya, sebagaimana pengakuannya di halaman pengantar, buku ini adalah hasil rangkuman dari berbagai sesi training-nya. Secara lebih rinci, buku ini mengalami proses mulai dari rekaman-rekaman sesi training yang kemudian ditranskrip dalam format tulisan untuk akhirnya dapat dibukukan seperti yang ada saat ini. Itulah alasannya membaca buku ini seolah terasa seperti mengikuti training Nasrullah secara tidak langsung. Keunggulan lainnya adalah terkait gaya bahasa dalam percakapan sehari-hari banyak digunakan di dalam buku ini. Sebab, di era yang serba mengandalkan aspek materialistis demi memperoleh sebuah kesenangan seperti saat ini, buku ini sangat perlu dibaca oleh semua orang.

Kekurangan

Kami rasa kekurangan buku ini terletak pada satu pembahasan tentang konsep Garpu Tala. Di bagian ini kiranya perlu penjelasan secara lebih mendalam terkait hubungan antara Al-Qur’an dan suatu persoalan yang dihadapi seseorang. Sebab, secara khusus, hal ini telah memasuki ranah penafsiran yang ada di agama Islam.